About

loading...
loading...

Jangan Halangi! Mari Kita Bantu Habibana Menjadi Pemimpin Sejati

loading...
loading...




Kerja-kerja agitasi dan propaganda yang istiqomah, dengan halang rintang dan cobaan yang berat, berhasil membuatnya menjadi figur utama suatu "perlawanan" terbesar yang pernah ada.

Lalu kemudian kabur, lari atas nama ibadah, kalau bukan pengecut apalagi namanya? Cukuplah itu terjadi, dan jangan sampai berkepanjangan. Kasihan, kerja-kerja seberat itu, jika ujungnya senista itu. Jangan dihalangi, jangan dibully agar tidak malu, dan biarkan dia pulang dengan tenang.


Pun jika perlu, perkenankanlah Presiden langsung menjemputnya di bandara, atau kalau bukan Presiden biarlah Brimob yang menjemputnya di bandara, dan langsung membawanya ke markas, agar aman dan merasa damai, untuk menjalani proses-proses pertanggungjawabannya, seperti yang ketua umum MUI sarankan.

Tidak perlu mengerahkan ratusan atau ribuan pasukan paramiliter putih-putih, akan terlalu banyak dana yang dikeluarkan. Toh dengan tidak mengerahkan mereka berarti telah bersikap baik pada para keluarga mereka yang lebih membutuhkan.

Mereka bisa tetap bekerja untuk menafkahi keluarganya, ketimbang grudak gruduk hanya demi sesuap nasi yang akan basi, jika mereka bawa pulang untuk anak istrinya.

Pelarian itu, jika kita harus menyebutnya sebagai pengasingan atau hijrah dalam jihad, ayolah kita sebut begitu. Dan bila perlu, ayo kita tegakan untuk membohongi anak cucu kita melihat sejarah yang terukir sekarang, kalau kepergian Habibana adalah pengasingan dan diasingkan oleh rezim yang berkuasa. "Habibana bukan pengecut" begitu judul sejarahnya untuk anak cucu kita kelak.

Sehingga namanya di masa depan, sejajar dengan nama Pramudya Ananta Toer, dan bila setuju kita sejajarkan dia dengan nama Bung Karno dan Bung Hatta yang kenyang diasingkan dan dipisahkan dari rakyat oleh penjajah.

Ini saya lagi serius! Bukan main gemes saya padanya, apalagi pengikutnya. Ibarat dalam istilah jawa "wes dikek'i ati malah ngrogoh peli". Kalau dibahasa Indonesia-kan berarti "sudah diberi hati malah milih".

Jalan terbaik dan satu-satunya untuk mencapai kedamaian bersama, hanyalah dengan menyambutnya dengan suka cita. Disamping untuk menghindari amukan manusia yang kesurupan Tuhan, adalah juga demi marwah Indonesia sebagai negara hukum.

Kalau bukan kita sendiri yang menegakkan hukum Indonesia, masa kita harus pasrah dengan hukum yang mereka punyai, masih ingat kan tragedi pemenangan Gubernur DKI tahun lalu. Lupa yaa? Kebanyakan mikirin banjir sih.


Bagi saya ini tentang kemanusiaan dan kebangsaan. Karena kita manusia berarti kita tidak boleh menghalang-halangi proses pertaubatan sesama kita, apalagi tidak membolehkan seseorang untuk bertaubat, dan membiarkannya pada jalan kesesatan selamanya. Jangan, itu tidak boleh.

Dan sebagai bangsa yang terikat pada negara, dan semua yang menjadi keluaran negara adalah mutlak harus dituruti, berarti kita harus tetap turut menjaga negara agar konsisten dengan pilihan hidupnya, yakni sebagai negara hukum.


Mengenai kepulangannya tersebut, adalah sebuah momentum besar untuk kita semua, dapat membuktikan kepada dunia kalau Indonesia sangatlah ramah, kepada siapapun, bahkan kepada penghina ideologi negara.

Juga membuktikan kepada dunia, kalau Indonesia masih dipenuhi orang-orang yang tidak seimbangbisa kehidupannya, tidak adil fikirannya dan orang-orang yang menganggap agama adalah Tuhannya, dan Tuhannya diperlemah sendiri, dengan identitas pembela Tuhan.

Sudah cukup kompleks masalah-masalah di Indonesia, yang jika satu langkah lagi salah mengambil arah, maka langkah ke duanya adalah penghancuran Indonesia dan peradaban Indonesia. [Horor yaa, mohon maklum, saya bersuara dari pojok desa].

Biarkanlah kepulangannya itu sebagai hidayahnya untuk bertobat kebangsaan, dan dengan kepulangannya itu, ia dapat melihay secara langsung kerusakan-kerusakan akibat doktrin-doktrin yang dia tanamkan selama hidupnya.

Memelintir sejarah dan makna Pancasila kini sudah dipastikan bukan hanya dia yang mampu, bicara kotor di majlis ilmu, menghujat yang berbeda faham, mengkritik tanpa mendudukkan masalahnya, semuanya sudah bisa.

Dan kerusakan-kerusakan itu, tidak akan masuk menjadi pertimbangan dalam hatinya, manakala dia tidak pulang dan tidak secara langsung melihatnya.

Sebagai orang yang sudah dinobatkan sebagai imam besar untuk semua aliran umat, maka sangat tidak pantas jika Presiden apalagi kita-kita ini, tidak menolehnya dan menganggapnya sebagai tokoh besar abad 21.

Yaa tokoh besar abad 21. Yakni 21 versi kitab togel. Tau apa?

Rahayu!






loading...

0 Response to "Jangan Halangi! Mari Kita Bantu Habibana Menjadi Pemimpin Sejati "

Posting Komentar