loading...
loading...

Semua menunggu reaksi Jokowi terhadap aksi kartu kuning terhadap dirinya dari ketua BEM UI ketika berpidato di acara Dies Natali UI. Aksi itu cukup menarik perhatian banyak orang termasuk warganet. Bahkan duo minion Fahri Zond an Gerindra menjadikan aksi ini momentum untuk – seperti biasanya – menyerang Jokowi baik dengan pernyataan-pernyataan maupun melakukan tindakan yang sama, kartu kuning-merah.
Jokowi menunjukkan sikap pemimpin yang sejati
Saya sendiri sudah mengutuk tindakan ketua BEM UI ini. Alasan saya mengutuk sudah saya tulis di tulisan sebelumnya yang berjudul Kartu Kuning-Merah (Oknum) DPR-Gerindra Bukti Kebodohan, Belajar Dari Mahasiswa ‘Gendeng’. Karena menurut saya tindakan itu tidak sepantasnya dilakukan seorang mahasiswa di tengah acara seperti itu dengan cara laiknya sepak bola.
Tetapi tidak demikian dengan Jokowi. Dia melihat mahasiswa sebagai seorang yang masih menggebu-gebu untuk menyuarakan pendapatnya. Jokowi menyadari bahwa mahasiswa dalam hal tertentu sebagai mereka yang penuh dengan semangat karena jiwa kemudaannya.
Selain itu Jokowi juga menganggap bahwa seorang presiden akan mendapatkan masukan dari berbagai pihak, termasuk dari mahasiswa. Hal ini menunjukkan siapa dia. Dia adalah presiden yang mau mendengarkan suara-suara yang peduli terhadap Indonesia, tidak peduli apakah itu dari pakar, politikus dan mahasiswa sekalipun. Bahkan dia merasa bahwa diingatkan adalah suatu yang baik dalam pemerintahannya. Luar biasa….
Bila kita bandingkan misalnya dengan SBY, yang selalu merasa prihatin dan curhat di media sosial, sangat jauh berbeda. Saya jadi bingung, yang mantan jenderal itu siapa? Ups…..
"Ya yang namanya aktivis muda ya namanya mahasiswa dinamika seperti itu biasalah, saya kira ada yang mengingatkan itu bagus sekali." (Detik)
Jokowi mendidik BEM UI
Jokowi tidak berhenti sampai di situ. Dia tahu bahwa mahasiswa ini tidak paham betul tantangan menanggulangi persoalan di Asmat. Dia paham betul kalau mahasiswa ini hanya mendengar dan tahu dari berita, tidak melihat secara langsung. Belum lagi kalau informasi yang didapatkan mahasiswa itu adalah informasi hoaks yang beredar banyak di media sosial, apa kata dunia.
Maka untuk mendidik dan mengajari BEM UI, Jokowi berencana mengirim mereka ke lapangan, ke Asmat agar mereka tahu bahwa bukan karena pemerintah tidak bekerja, melainkan medan Asmat yang tidak mendukung agar penanganan masalah cepat terselesaikan.
Jokowi sendiri sudah mengutus TNI dan pihak lainnya untuk menangani persoalan di Asmat. Bahkan universitas lain sudah mengirimkan tim untuk ikut ambil bagian dalam penanganan persoalan di Asmat.
Sebenarnya sudah banyak informasi yang beredar tentang tindakan pemerintah terhadap penanganan persoalan di Asmat. Hanya saja mungkin BEM UI ini tidak melek informasi sehingga menuduh pemerintah tidak melakukan apa-apa terhadap persoalan di Asmat serta mempertanyakan kekurangan gizi dengan anggaran otonomi Papua yang begitu besar.
Nah …. Dengan dikirim ke Asmat, mereka akan tahu dan matanya akan melek. Kalau mau saya yang membahasakan kalimat Jokowi itu seperti ini nih: “Hoi goblok… Nanti kamu akan dikirim ke Papua, biar matamu yang picek itu terbuka. Kamu akan tahu kalau di sana tidak seperti dinginnya AC kampus, tidak datar jalanan Jakarta, segampang kamu naik mobil ke Kampus, dan lain sebagainya. Biar kamu buka matamu agar mulutmu tidak bau hoaks, goblok. Ngerti kau goblok!” (Ini rekaan saya bukan perkataan Jokowi)
"Mungkin nanti ya, mungkin nanti saya akan kirim semua ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI ya.”
“Biar lihat dapat bagaimana medan yang ada di sana kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah terutama Papua.” (Detik)
Saya yakin mereka sudah mulai ketakutan. Bukan ketakutan kepada Jokowi, tetapi ketakutan akan menghadapi tantangan Papua yang tidak mudah. Orang tua mereka pun saya yakin sudah risau dan gundah gulana. Tapi saya hanya mau bilang, “Welcome to the jungle.”
Haters pun bungkam, oiiii……
Sebenarnya haters sudah mulai unjuk gigi. Mereka sudah ikut-ikutan mengangkat kartu kuning-merah. Eh… Jokowi menawarkan ketua BEM UI ke Asmat, seolah mau mengatakan seperti ini ke haters bin duo minion dan Gerindra: “Hoi kampret… kalian sudah pada ke Asmat belum? Kalau belum pergi ke sana, gak usah sok-sok ikutan angkat kartu. Heii… duo minion… kamu sudah buat apa nih? Lagi takut disebut nama di KPK yah ama solmetmu Papa Novanto? Oiiiii….. Gerindra, gak usah angkat kartu kuning ke saya. Coba benahi dulu kadermu yang tukang bakar sekolah dan pengedar narkoba itu, baru setelah itu ngomong. Dasar kampreet……” (Ini bukan perkataan Jokowi)
Jokowi memang luar biasa soal menggunakan kode-kode politik. Tidak perlu mengomentari apa-apa, lawan politik sudah kepanasan sendiri dan gontok-gontokan sendiri. Untuk menghadapi mulut bau si duo minion tidak diperlukan komentar langsung. Cukup komentari BEM UI, yang sebelah sudah bungkam sendiri.
Mau ngomong dictator lagi kau kampret? Mau bilang anti-kritik, ya tong? Atau mau bilang abuse of power kau dewa prihatin?
Sekarang Anda tahu bahwa Jokowi bukanlah seperti yang haters bilang. Saya yakin BEM UI akan melek matanya. Mereka akan menjadi cebong setelah pulang dari Asmat. Mereka akan tahu kalau yang mereka kritik itu adalah yang seharusnya mereka dukung.
loading...
0 Response to "HEBOH...!!!Jokowi Akan Kirim Ketua BEM UI Ke Asmat: Dididik Agar Matanya Melek. Haters Pun Bungkam!"
Posting Komentar